Mengapa Kita Ingin “Disukai” Di Media Sosial?

Do you have social media? If yes, you can continue. This post concerned on the question, why we would expect getting ‘like’ in our post? This happened to one of my collegues in Jakarta. She was looking worried and uncomfort while she worked at office. She just posted one picture on social media. She expected people around would like to response her posting.

I believe this could be happen over people who have social media. According to recent research, people can be excited and very enthusiastic after getting response on their post in social media especially more click ‘like.’ It is a such dopamin I think. The Experts state this taps the brain’s pleasure center involving such as ‘like’, ‘share’ or ‘comment’. 

Following mentioned above, here in down is the reasons to describe the trends:

  1. To show that one has noticed or recognized by clicking ‘like’
  2. To blow up self esteem.
  3. To have feeling secured and comfort after getting more ‘like’
  4. To be part of social habits commonly.

This is open opinion. So I explain in down still in Bahasa Indonesia. 

****

Kejadian yang saya ceritakan berikut terjadi di Indonesia. Teman kerja saya terlihat gelisah, sesekali dia melihat pada layar monitor hape. Terdengar bunyi notifikasi pada hape, dia melihat pada layar hape kemudian tersenyum senang. Lalu dia pinjam hape saya sebentar, sambil saya bersama dengan dia mengecek media sosial. Rupanya dia baru saja posting status dan saya dimintanya memberikan ‘like’. Oh, jadi karena ini membuatnya suka tersenyum sendiri. Anda paham maksud saya, ingin diberi ‘like’ pada status media sosial.

Saya sempat membaca berita bahwa si pencipta ‘like’ di facebook memutuskan enggan menggunakan facebook. Sebagai penciptanya, dia khawatir pemberian ‘like’ akan berdampak negatif secara psikologis pada penggunanya. Berita di sini. Kekhawatiran itu ternyata benar seperti yang tampak pada teman kerja saya tersebut. Dia sampai meminjam hape saya, on befalf of me, untuk memberikan ‘like’ pada postingannya.

Apa yang terjadi? 

Fenomena psikologis ini memang menimbulkan candu bagi penggunanya. Tetapi ini pula yang membuat saya mengamati dan memberikan pendapat saya di bawah ini. 

Mengapa orang ingin disukai atau diberi ‘like’ di media sosial?

1. Bentuk eksistensi atau pengakuan kehadiran kita

Bagaimana orang lain bisa mengakui keberadaan seseorang bila tidak mengenalnya. Demikian pula daftar orang dalam lingkup maya kita adalah orang yang kita kenal di dunia maya. Bisa jadi kita mengenal kehadiran orang tersebut dalam dunia maya hanya karena pemberian tombol ‘like’ tetapi dalam hidup nyata belum tentu kenal baik. Artinya pemberian tombol ‘like’ untuk menunjukkan keberadaan diri si pembuat status. Jika anda pasang status atau foto, namun tak ada satu pun yang merespon anda, bagaimana perasaan anda? Anda mungkin merasa terabaikan.  

2. Memberikan tombol ‘like’ ternyata mampu meningkatkan self esteem.

Apa iya? Segitu dahsyatnya pemberian tombol like sampai meningkatkan self esteem. Pertama-tama mari telaah dulu apa itu self esteem. Self esteem adalah sejauhmana seorang pribadi mengevaluasi dirinya secara subjektif tentunya, bisa positif maupun negatif sesuai pemikiran, perasaan dan opininya sendiri. Siapa sangka ya, mereka yang mendapatkan tombol ‘disukai’ dari orang lain bisa berpengaruh pada pendapat tentang dirinya. Hal ini sebagian besar terjadi pada remaja. Misal, setelah memotong rambut, si remaja pasang foto terbaru. Ada yang tidak suka dan ada yang memberikan komentar buruk dengan model rambut. Siapa sangka si remaja bisa menilai dirinya hanya dari respon seperti itu. Jika tak percaya, lakukan eksperimen sendiri pada media sosial anda! Baca di sini.

3. Setelah diberi ‘like’ ternyata memberikan rasa aman dan nyaman loh.

Seperti kasus pada teman saya yang gelisah saat bekerja, rupanya dia ingin ada yang memberikan respon terutama pemberian ‘like’ pada postingannya. Jika tidak ada yang memberikan respon, apa yang terjadi setelahnya? Dia, rekan kerja yang sedang kecanduan media sosial, bisa saja merasa tak bergairah. Malahan saya melihat dia menjadi tak fokus bekerja karena kerap kali melihat layar hape dan berharap pada tanda notifikasi. Setelah banyak yang merespon status atau postingannya, dia bisa jadi ceria luar biasa. Rasa aman dan nyaman ini ternyata dapat dengan mudah diberikan hanya karena pemberikan ‘like’ pada postingan orang lain. 

4. Karena ini adalah bagian dari kecenderungan kekinian gaya hidup mereka yang punya media sosial.

Begitulah bagi mereka yang memiliki media sosial, memberikan respon sebanyak-banyaknya dan berharap orang lain akan membalas hal yang sama pula. Saya sudah mencoba eksperimen ini. Namun tidak bisa digeneralisasikan pada semua orang. Tak semua orang terlibat di media sosial, termasuk beberapa orang yang saya kenal baik. Mereka yang tak memiliki media sosial bisa jadi punya kecenderungan yang berbeda. Saat ini, pemberian ‘like’ menjadi alasan kekinian, ke depan entah inovasi apa lagi yang muncul. 

Kesimpulan

Tak semua orang di dunia ini punya media sosial. Media sosial bukan hanya menjadi penghubung dengan orang lain, namun memberikan dampak psikologis dengan kemunculan pemberian respon termasuk ‘like.’ Setiap orang yang punya media sosial bisa jadi punya pendapat berbeda tentang ini, namun pastinya mereka mengalami hal yang sama karena ‘disukai’ atas postingan mereka. Perasaan apa yang sama? Perasaan senang. 

Semoga kita bisa lebih bijak terhadap penggunaan media sosial!

Mengapa Kita Perlu Punya Etika di Media Sosial?

Beberapa hari belakangan kita disibukkan dengan berbagai postingan di media sosial tentang berbagai hal yang memang sedang jadi tren di Indonesia. Yups, Pilkada merupakan salah satu yang menjadi isu nge-trend di media sosial. Namun di sisi lain banyak pula isu yang berseliweran baik positif maupun negatif di media sosial. Apakah kita perlu punya etika di media sosial?

Ada mungkin sebagian orang berpendapat seperti ini “Mulut gue, status gue, akun atas nama gue. Kenapa elo yang sewot?” Pendapatnya seperti itu benar, namun mereka bisa jadi disebut tidak tahu etika berkomunikasi. 

Ada pula yang menyahut begini “Hello, ini ‘kan cuma dunia maya. Orang tidak tahu siapa saya. Saya ‘kan pakai anonim alias bukan nama sebenarnya.” Lalu jika anda pakai anonim, apakah tidak bisa terdeteksi? Come on, meski dunia maya namun kini berlaku hukum ‘Statusmu Harimaumu’ jadi anda tidak bisa bersembunyi karena apa yang sudah dibagikan dalam dunia maya pun dianggap sebagai konsumsi publik. Kecuali anda membatasi atau menjadikannya private

Kembali soal etika, ini alasan pentingnya dilakukan dalam jaringan media sosial:

1. Postingan menunjukkan bagaimana anda berperilaku di media sosial karena apa yang anda bagikan diperlihatkan kepada teman dalam daftar anda atau dilihat publik. Jadi pepatah lama masih berlaku, Anda Sopan Kami pun Segan. 

2. Ingat kembali teman yang berada dalam daftar media sosial anda! Jika postingan anda soal pekerjaan lalu anda menuliskan hal-hal negatif, apakah itu tidak akan memperburuk posisi diri anda di tempat kerja? Jadi etika perlu karena menyangkut teman yang menjadi bagian dari daftar yang diterima anda di media sosial. Jangan sampai anda kehilangan pekerjaan hanya karena etika anda yang buruk di media sosial!

3. Anda mungkin berkilah bahwa daftar teman anda tidak berkaitan dengan bisnis atau pekerjaan. Namun bisa saja perbedaan pandangan dalam memposting yang disebut tidak tahu etika menyebabkan anda kehilangan persahabatan. Kok bisa? Bisa saja. Saat membagikan informasi viral di media sosial, perhatikan unsur SARA (suku, agama dan ras). Di sini diperlukan etika. Pastikan sumbernya dan yang terutama postingan anda tidak membuat ketidaknyamanan antar golongan. 

4. Anda bertanggungjawab terhadap akun yang sudah dibuat atas profil anda. Jadi etika perlu agar anda tidak dikenakan sanksi hukum atas hal-hal yang tidak santun. Buatlah orang lain dalam daftar anda nyaman dan berkenan pada postingan anda! Jika ingin postingan anda disukai banyak orang, pilihlah yang santun!

5. Terakhir, perhatikan pula hak cipta bila mengkopi konten orang lain! Lalu hindari juga cyber bullying terutama komentar negatif atas orang lain. Jika anda melanggarnya, kemungkinan anda dilaporkan ke administrator pengelola situs. Oleh karena itu etika perlu meski di media sosial karena menyangkut citra diri yang anda bangun di sana.

So, be wise! Jadilah bijak untuk memanfaatkan media sosial yang menghubungkan satu sama lain! 

5 Hal yang Ingin Diketahui dari Akun Medsos Milik Mantan

Meski sudah tidak bersama lagi, mereka yang masih mengunjungi akun medsos milik mantan hanya penasaran, apakah mantan kekasih sekarang bahagia dengan statusnya? Sumber foto: Dokumen pribadi

Munculnya media sosial semakin menggeliatkan orang untuk mengasah rasa ingin tahu terhadap orang yang pernah dikenal, termasuk mantan kekasih. Media sosial yang dulu digagas untuk menghubungkan satu orang dengan yang lain sebagai bentuk jalinan pertemanan, kini media sosial juga dijadikan buruan untuk menyelidiki dan mengetahui keadaan mantan. Rasa penasaran ini muncul sehingga acap kali mengintip akun milik mantan hanya untuk mengetahui beberapa hal.

Sebuah studi yang dilakukan oleh The University of Western di Ontario menyebutkan bahwa perempuan masih mendominasi untuk mengecek mantan kekasih lewat media sosial. Dikatakan bahwa 88 persen pengguna Facebook perempuan masih mengintip akun milik mantan. Apakah gejala ini wajar?

Dari hasil diskusi dan bertanya dengan beberapa teman berikut 5 hal yang ingin diketahui sehingga seseorang masih mengunjungi akun media sosial milik mantan:

  1. Dimanakah lokasi keberadaannya?

Lokasi keberadaan menjadi incaran nomor satu untuk mengetahui informasi keberadaan mantan kekasih. Mereka ingin tahu apakah mantan kekasih sekarang sudah pindah lokasi tinggal atau mendapatkan promosi pekerjaan sehingga pindah ke lokasi lain. Terkadang lokasi keberadaan ingin diketahui sebagai isyarat seberapa jauh atau dekat mereka dengan mantan kekasih saat ini. Bisa jadi ada niat untuk menjalin tali silahturahmi kembali di masa mendatang jika berlokasi dekat dengan anda. Atau mereka merasa beruntung karena jarak lokasi sekarang yang berjauhan dengan mantan kekasih.

  1. Apa aktivitasnya sekarang atau apa yang sedang dikerjakannya?

Kebanyakan mereka yang mengunjungi akun mantan meski tidak berteman, hanya ingin mengetahui apa yang sedang dikerjakannya saat ini. Hal ini bisa menyangkut pekerjaan, gaya hidup atau informasi perubahan yang berbeda dari dulu mereka mengenalnya. Mereka bisa mengecek dari status yang dipostingkan atau dari timeline untuk menyelediki aktivitas yang sedang dikerjakannya saat sekarang.

 

  1. Apa statusnya sekarang?

Meski sudah menjadi mantan kekasih, tetapi mereka umumnya juga masih penasaran dengan status hubungan, apakah mantan kekasih masih melajang? Kepedulian mereka akan status mantan kekasih diumpamakan untuk mengetahui siapa yang lebih unggul untuk berpaling dari masa lalu.

  1. Bagaimana kondisi (tampang) nya sekarang?

Perubahan yang terjadi pada mantan bisa terlihat dari foto profil atau foto yang dipostingkan. Mereka yang mengunjungi akun milik mantan hanya sekedar untuk mengetahui perubahan pada penampilan dan bentuk tubuh. Ada pula yang masih memikirkan wajahnya yang dulu pernah dicintai hingga masih belum bisa melupakannya. Sesekali jika rasa rindu datang meski sudah menjadi mantan, mereka biasanya masih berkunjung ke akun milik mantan.

  1. Apakah dia bahagia?

Selain empat hal di atas, mereka yang masih mengunjungi akun milik mantan juga ingin mengetahui perasaan mantan. Meski kebahagiaan tidak diukur dari status hubungan, tetapi mereka yang masih menyelediki mantan masih tertarik dengan perasaan bahagia atau tidak mantan usai tidak bersama lagi.

Bagaimana dengan anda sendiri? Apakah anda juga masih mengunjungi akun milik mantan kekasih?

Sumber bacaan: http://lifestyle.okezone.com/read/2015/06/14/196/1165225/penyebab-wanita-masih-penasaran-dengan-mantan

10 Pertimbangan Sebelum Posting Status

Bertumbuhnya media sosial tidak serta merta mendatangkan manfaat untuk berjejaring pertemanan secara maya tetapi juga mendapatkan mudarat jika penggunaannya tidak sesuai atau disalahgunakan. Sudah muncul beberapa kasus terkait penulisan status yang berujung pada sanksi hukum dan sosial di masyarakat.

Berikut 10 pertimbangan yang perlu disimak jika anda menuliskan status atau mempostingnya di dunia maya:

1. Pikirkan bahwa anda tidak hanya penulis status tetapi juga pembaca status. Jadi jika anda menuliskannya lalu dibaca khalayak apakah cukup layak dan wajar bila anda membacanya. Bila anda sendiri membacanya tidak nyaman dan muncul keraguan sebaiknya tunda saja. Anggap saja tes pertama tulis status adalah uji keterbacaan, apakah status akan menimbulkan ambigu atau kesalahpahaman?

2. Status yang anda tulis bukanlah curahan hati akibat rasa emosional yang baru saja anda alami. Saat kita marah, kesal, kecewa dan frustrasi akibat kondisi atau seseorang, bukan serta merta menjadikan media sosial sebagai “buku diary”. Jika emosi muncul, hitung mundur 10 lalu jika sudah di angka 1, silahkan tarik nafas. Emosi yang anda luapkan di media sosial tidak akan menyelesaikan masalah.

3. Pertimbangkan unsur SARA (Suku, Agama dan Ras) saat menuliskannya. Meski sekedar berbagi di dunia maya namun apakah layak anda memuatnya bila hal itu bersinggungan dengan SARA. Hormati dan hargai orang lain sebagaimana kita juga ingin dihargai orang lain. Ada banyak contoh akun media sosial yang punya banyak teman maya karena menuliskan hal-hal yang positif. Jika kita ingin disukai, bangun citra diri positif juga bagi mereka.

4. Apa pun yang anda postingkan akan tersimpan secara virtual. Jangan pernah berpikir bahwa apa yang anda tulis tidak membekas. Segala sesuatu yang dipostingkan akan tersimpan rekam jejaknya meski anda sudah melupakan atau menghapusnya. Mungkin saja seseorang menyimpankannya untuk anda. Hal ini pernah dialami oleh seorang teman yang kemudian ia tak bisa lagi berkelit mengingat seorang temannya lain telah menyimpan dan menunjukkannya pada orang yang dihina dalam postingan tersebut.

5. Pertimbangkan etika menulis. Dalam kenyataan kita harus bersikap santun jika kita mengambil “milik” orang lain. Jika kita memposting sesuatu yang menjadi karya intelektual orang lain, sebaiknya kita pun meminta ijin kepada yang bersangkutan (cantumkan sumbernya). Ketika menulis sebagai komunikasi tertulis tak jauh beda dengan komunikasi lisan, jadi jika anda memberikan opini atau kritikan, berikan alasan dan argumentasi yang menguatkan. Perhatikan pula kesantunan dan kelayakan untuk dimuat menjadi konsumsi publik.

6. Status adalah cerminan karakter pribadi. Jika anda menampilkan citra diri yang negatif melalui status-status yang anda posting, sebagian besar pembaca status anda akan memberi penilaian negatif juga pada anda. Meski anda bisa berujar, “Suka-suka gue dong mau nulis apa.” Tetapi kesukaan anda menulis sesuka anda juga bisa berdampak pada orang lain yang membaca juga bersikap sesuka mereka untuk memberi komentar buruk, mencap anda, tidak suka pada status anda atau menghapus anda dari pertemanan mereka. Orang lain bukannya memberikan dukungan pada status anda tetapi malah menjatuhkan anda karena status postingan anda.

7. Cek dan pastikan dulu apa yang akan anda tulis sebagai status. Jika anda ingin memposting sesuatu dan membagikannya pada publik sebaiknya cek dulu, apakah faktanya demikian? Jangan sampai status yang akan anda posting menimbulkan pencemaran nama baik, fitnah, tudingan tak mendasar atau konflik yang belum tentu benar dan diterima oleh kebanyakan masyakarat pada umumnya.

8. Apakah status yang akan anda posting menyangkut hal-hal pribadi, personal dan bukan konsumsi publik? Apa tujuan dan maksud anda memposting sesuatu untuk diketahui secara publik? Apakah anda ingin disukai atau diakui eksistensi dari status tersebut? Pikirkan apa manfaat orang lain mengetahui status yang akan anda bagikan. Jika hal-hal yang menyangkut personal bisa dibagikan ke orang-orang tertentu, anda bisa melakukan pesan tertutup. Jika tujuan anda meyakinkan banyak orang dengan status anda, pikirkan apakah cukup objektif untuk disampaikan?

9. Reputasi anda juga ditentukan dengan postingan status anda. Ada beberapa rekan yang bekerja sebagai perekrut karyawan juga mempertimbangkan seleksi berdasarkan partisipasi di dunia maya, seperti profil diri, status di media sosial dan sebagainya. Jangan rusak reputasi anda hanya karena status sosial anda yang konyol. Jangan sampai anda kehilangan kesempatan “memarketingkan diri” anda hanya karena status anda.

10. Jika anda berpikir bahwa anda menggunakan profil palsu atau “anonymous”, tetaplah akan terlacak bila suatu saat diperlukan jika postingan anda mengganggu kenyamanan orang lain bahkan mengancam ketertiban. Jadi jangan pernah berpikir bahwa anda dapat bersembunyi dari data palsu untuk memposting status.

Saya menyarankan anda untuk berpikir dulu sebelum memposting status.

Semoga bermanfaat ­čśÇ

Anda Kesepian & Suka Online di Facebook?

Pernah punya teman dalam facebook yang sering update status? Sampai-sampai “maaf” dia sedang di WC rumah pun dimuat jadi statusnya. Hadeh!!! Ada pula teman yang isinya tiap saat curhat dan menjadikan facebook seperti buku harian/diary atau juga buku doa.

Setelah tahun 2011, saya memang tidak mengikuti perkembangan status teman-teman saya yang di tahun itu sudah mencapai 2 ribuan teman. Saat punya akun facebook pun, saya adalah tipe orang yang tak pernah menuliskan hal-hal pribadi dalam profil dan dinding saya, bahkan foto profil hanya saya saja yang buka. Saya bahkan tak punya satu status pun di dinding, semua sudah saya hapus sebelum tahun 2011. Artinya, saya tidak tertarik untuk terlibat dalam aktivitas media sosial tersebut. Saya sudah putuskan untuk deaktiv dan menghentikannya dengan aktivitas lainnya. Setiap orang punya pilihan dan opini beragam tentang facebook, termasuk saya yang pernah menuliskan artikel sebelumnya di tahun 2010 di link berikut https://liwunfamily.wordpress.com/2010/10/30/korban-media-sosial/.

Sebuah studi dari Charles Sturt University di New South Wales, Australia tentang facebook belum lama ini menyatakan bahwa mereka telah mempelajari profil dari 616 pengguna Facebook perempuan. Profil akun facebook juga memasukkan informasi pribadi seperti status hubungan, alamat kontak bahkan mencantumkan buku dan film favorit. Ditemukan bahwa 79 persen diantara mereka adalah kesepian. Hal ini terlihat dari mereka yang terus mengeluh dan memposting statusnya terus menerus di facebook.

Studi menunjukkan bahwa mereka yang kesepian atau depresi lebih cenderung untuk berbagi informasi pribadi. Mereka juga menyatakan perasaan di postingan terbaru mereka.

Penelitian ini kemudian memantau aspek ketersediaan profil untuk dilihat secara publik dalam hubungan antara kesepian dan keterbukaan diri. Dengan berbagi informasi akan memudahkan mereka yang kesepian memulai kontak sehingga membantu mereka mengatasi kesepian.

Sebelumnya di tahun 2011, saya pun sudah menuliskan betapa pentingnya berpikir dulu sebelum memposting sesuatu di media sosial (Hey, please think before posting).

Berikut hal-hal yang mungkin melatarbelakangi mereka yang kesepian dan suka menghabiskan waktu di media sosial:

1. Setiap orang butuh eksistensi diri. Ketika dalam dunia nyata, ia tak berhasil mendapatkannya kemungkinan dalam dunia maya setiap orang bisa jadi siapa saja yang diinginkannya. Tak sedikit pula mereka tertipu dengan foto, data pribadi dan status yang diposting.

2. Dalam media sosial, mereka tidak terhubung secara real sehingga sulit buat mempertanggungjawabkan hal-hal yang diperbuat, seperti misalnya mencaci maki orang, mencela, menyinggung, komplen, dsb. Sepertinya mereka lupa bahwa semua tindakan kita pun ada etikanya. Mereka menjadi lebih berani menunjukkan eksistensi diri dalam dunia maya dibandingkan dunia nyata.

3. Perempuan lebih suka mengekspresikan diri, menyatakan perasaan mereka dan berkeluh kesah. Wajar jika hasil penelitian ditemukan pada pengguna akun perempuan.

4. Kemudahan dan kemurahan untuk akses teknologi memungkinkan orang untuk selalu terhubung dan membuat postingan terbaru. Coba bayangkan jika anda berada di wilayah remote yang sulit mendapatkan jangkauan jaringan internet. Mungkin keadaannya jadi berbeda.

5. Mereka yang kesepian berusaha mencari atensi dengan postingan terbaru sehingga menjadi disukai statusnya, dilihat dan diperhatikan atau dikomentari.

Can you imagine a day without online? Jadilah pengguna media sosial yang cerdas dengan tetap terhubung, bukan “korban media sosial”.

Sumber bacaan:
http://www.dailymail.co.uk