Apa Saja Bisa Dilakukan di Danau Wolfgangsee, Austria? (2)

Sewa kapal bisa jadi pilihan menarik berkeliling danau.
Danau tercantik di jantung Eropa, Wolfgangsee.

Selamat Hari Senin! Akhir-akhir ini kesibukan menyita, sehingga isi blog didominasi kuliner aneka macam. Bahwa ternyata menulis itu butuh waktu, tidak hanya sekedar ide saja seperti mencari bahan literatur pendukung. Karena sibuk, ide tulisan hanya seputar kuliner saja. Begitulah!

Bagaimana jika saya bagikan pengalaman saya berkunjung ke danau Wolfgangsee, yang letaknya tak jauh dari danau Fuschlsee. Untuk menyimak keindahan danau wolfgangsee yang populer, bisa disimak di sini. Lebih asyik jika kita bisa tinggal lebih lama karena ada banyak pilihan bisa dilakukan.

Apa saja?

1. Tinggal di hotel atau menginap

Danau ini kerap dijadikan tujuan wisata berlibur kala musim panas untuk warga Jerman dan sekitarnya. Pemandangannya yang indah ditambah sinar matahari yang menyorot membuat suasana seperti di pantai. Banyak resort dan hotel yang menawarkan fasilitas terhubung dengan danau, sehingga bisa berjemur di tepi danau atau berenang.

Menurut saya, danau ini layak dikunjungi untuk tinggal beberapa lama di sini. Sebagai tempat tujuan wisata, aneka kebutuhan lengkap tersedia. Bahkan ada banyak pilihan restoran, kafe hingga toko yang menjual sovenir.

2. Berenang

Karena begitu jernih dan bersih airnya, danau ini pun layak buat berenang. Sebagian danau mungkin tak baik untuk berenang. Danau ini aman dan nyaman, sepanjang kita tahu batas aman berenang. Katanya sih pemandangan bawah danau ini juga indah loh. Jadi jika suka menyelam, bisa juga dicoba.

3. Naik kapal wisata

Sebagai danau tercantik di jantung Eropa, wolfgangsee juga menawarkan pilihan kapal wisata. Periode kapal wisata mulai April – Desember. Kita akan menikmati pemandangan danau dan berlabuh di beberapa dermaga sekitar. Oh ya, beberapa pasangan yang akan menikah menjadikan ide menikah di kapal sebagai sesuatu yang istimewa. Bisa juga ditiru idenya. Apalagi pemandangan danau di sini memang terkenal romantis. Hmmm…

4. Naik delman

Tak hanya kapal wisata saja, ada pilihan transportasi menarik dan unik menurut pengamatan di Eropa. Yups, delman. Kendaraan yang ditarik dengan kuda ini memang tak banyak dikelola. Namun bukan tidak mungkin ide naik delman berkeliling sekitar danau juga jadi pilihan. Pilihan ini banyak digemari anak-anak dan keluarga.

5. Berkunjung ke hotel dan kafe “Romantik hotel Im Weissen Rössl”

Menginap di hotel romantis bisa jadi pilihan berlibur yang menakjubkan. Pasalnya hotel ini berada di bibir danau. Selain tempat menginap, di sini tersedia kafe dan restoran. Tempat ini tak pernah sepi. Interior di sini menawarkan panorama seputar pembuatan film tempo dulu. Ya, hotel ini dijadikan lokasi syuting film yang sempat populer di Jerman dan Austria. Banyak orang juga datang hanya untuk memesan menu dan duduk di dekat tepi danau.

6. Gereja St. Wolfgang

Terakhir adalah gereja katolik St. Wolfgang. Ini dia yang menjadi cikal bakal nama danau. Sebelumnya danau ini disebut Abersee. Namun belakangan nama danau lebih populer disebut Wolfgang. Di balik jendela gereja, kita bisa melihat pemandangan danau. Gereja yang sudah berusia 450 lebih ini juga sering didatangi wisatawan. Tidak hanya sekedar tempat ibadah, namun di sini kita bisa melihat keindahan karya Tuhan lewat danau di depan mata.

Demikian enam hal yang bisa dilakukan di danau Wolfgangsee. Jika anda berkunjung ke Austria, mungkin anda bisa menyempatkannya berkunjung.

10 Hal ini Bisa Dilakukan di Fuschlsee St. Gilgen, Austria (2)

Ini dia danau Fuschl.
Seperti wisata danau umumya, di sini pun tersedia kapal wisata.

Melanjutkan kunjungan saya ke Fuschlsee St. Gilgen di Salzburg, tentu anda sudah mulai menebak apa saja yang bisa dilakukan di sana. Ya, sebelumnya anda bisa menyimak kunjungan saya di bagian pertama. Cek di sini!

Dengan perjalanan selama kurang lebih satu jam dari kota Salzburg, anda bisa mendapati Salzkammergut yang punya pesona alam yang indah. Salah satunya danau Fuschlsee St. Gilgen. Konon wisata ini sudah dimulai sejak abad 14. Ketika itu rumah-rumah penduduk di situ tak lebih dari sepuluh. Melihat perkembangan semakin banyak penduduk, tahun 1470 didirikan paroki St. Gilgen yang dibangun bergaya baroque.

Danau ini memang menjadi obyek wisata saat musim panas sejak dulu. Bahkan tempat ini menjadi wisata keluarga karena banyak hal bisa dilakukan di sini.

Apa saja?

1. Berjemur di pinggir danau

Salah satu menikmati musim panas adalah menjemur badan di sini.

Tak ada tiket masuk untuk menikmati keindahan danau ini. Danau yang luas, masih bisa dinikmati tidak hanya di pusat obyek wisata. Beberapa orang menikmatinya di tempat lain, masih di danau yang sama. Asyik ‘kan. Bawa perlengkapan berjemur sendiri dan beberapa perbekalan jika tidak ingin jajan. Namun memang perlu diingat, untuk selalu menjaga kebersihan danau.

2. Naik kereta gantung dan coba terjun payung

Perhatikan yang diberi lingkaran merah, satu adalah kereta gantung. Dan yang lain adalah terjun payung.

Ide kedua naik kereta gantung, juga mungkin disukai anak-anak. Pasalnya anak-anak bisa menikmati keindahan alam dari ketinggian. Ada danau dan pemandangan puncak gunung yang indah. Bahkan dari satu stasiun ke stasiun lainnya, anda akan melihat danau ini dari ketinggian yang katanya sangat indah.

Di sini pula saya melihat beberapa orang sedang melakukan olahraga terjun payung. Di satu sisi kereta gantung berjalan, di sisi lain ada orang-orang yang berani melakukan terjun payung. Keren!

3. Naik cable railway ke Schafberg

Ide ketiga ini juga bisa dicoba jika anda tahu puncak Schafberg. Untuk mencapai tempat tertinggi ini, anda harus menempuhnya dengan cable railway yang unik dan instragramable. Sampai di Schafberg, anda pasti tak akan melewatkan berfoto karena pemandangannya yang indah. Ingin berlama-lama juga boleh, ada hotel dan restoran juga di sana.

4. Naik kapal wisata

Kapal wisata tampak menuju ke dermaga.

Wisata danau tak lepas dari menggunakan kapal wisata. Ada beberapa rute dermaga yang bisa dikunjungi. Siapkan kocek anda untuk menempuh perjalanan menyusuri danau ini! Anda bisa menghabiskan sekian jam dengan pilihan wisata ini.

5. Sewa boat

Kano.

Ingin bergaya layaknya pemain Baywatch, juga boleh. Silahkan menyewa boat di tempat yang tersedia! Anda bisa melakukan perjalanan romantis dengan pasangan menggunakan kapal kecil ini. Anda juga bisa menggunakan kapal layar. Keren ‘deh.

6. Olahraga air

Di sini tersedia beberapa pilihan olahraga air. Di pusat sport water, ada pilihan banana boat. Tak hanya itu, anda juga bisa mencoba kano membelah danau. Olahraga ini memang digemari jika anda punya keterampilan melakukannya. Di sini pula ada perkumpulan para peselancar kano. Ada juga olahraga perahu layar. Lengkap!

7. Berkunjung ke museum Mozarthaus dan museum lain

Rumah ini adalah kediaman kelahiran ibu dari Mozart. Kemudian dijadikan museum dan rumah keluarga Mozart.
Suka museum, bisa datang ke sini juga.

Jika kita mendatangi Rathaus, di depannya tepat patung Mozart, musikus dunia sedang bermain biola. Rupanya tak jauh dari bibir danau, ada kediaman keluarga Mozart yang pernah menetap di situ. Namanya Mozarthaus, anda bisa menemukan berbagai cerita menarik seputar Mozart dan keluarganya.

Tak hanya itu, ada juga pilihan museum lain seperti museum seni. Atau museum Heimatland yang bercerita sejarah danau ini hingga Wolfgangsee. Cerita danau Wolfgangsee menyusul. So tidak hanya danau saja ‘kan, ada banyak hal bisa dieksplorasi.

8. Pijat kaki pakai mesin

Hmm, tertarik?

Lelah karena seharian beraktivitas di sini, tak perlu khawatir. Cukup keluarkan uang koin 1€ anda akan merasakan sensasi mesin pijat kaki. Dijamin anda akan merasa bugar lagi. Menarik ya!

9. Menginap dan tinggal beberapa hari

Terlalu banyak pilihan wisata dilakukan di sini, saya sarankan untuk menginap saja di sini. Ada banyak pilihan resort, hotel dan hostel, yang berharga terjangkau hingga tempat menginap menawarkan fasilitas mewah. Mungkin anda butuh lebih dari satu hari untuk menikmati wisata alam di danau Fuschl.

10. Menikmati kuliner

Menu pilihan suami, Wiener Schnitzel. Pilihan saya akan diulas pada artikel berikutnya.

Terakhir nih, berwisata tak lengkap tanpa menikmati sajian kuliner. Ada banyak pilihan menu yang bisa dinikmati di sini. Menu makanan ala Austria atau makanan ala Italia. Ada juga makanan kreasi moderen yang semuanya untuk membuat anda benar-benar menikmati pilihan wisata di danau Fuschl.

Tunggu apalagi! Jika berlibur ke Austria, sempatkan main dan berlibur ke sini ya. Semoga cerita saya bermanfaat!

Fuschlsee St. Gilgen, Austria: Danau Cantik Tak Jauh dari Salzburg (1)

Pemandangan sekitar danau, bunga-bunga cantik di taman tepi danau. Tak ada tiket masuk.
Sewa boat, maka anda bisa membuat foto instragamable.
Hanya ingin berjemur dan menikmati alam di pinggir danau juga boleh.

Salzburg selalu menjadi incaran wisatawan yang berkunjung ke Austria. Pesona alam yang ditawarkan seolah tak pernah habis juga. Contohnya danau Hallstatt yang pernah dikunjungi tahun lalu. Foto danau ini berseliweran di media sosial yang kemudian memicu kami berkunjung ke danau Halltsatt yang letaknya sejam dari Salzburg. Danau ini benar-benar mempesona.

Baca https://liwunfamily.com/2017/11/29/hallstatt-austria-temukan-kedamaian-batin-di-tepi-danau/

Berbeda dengan danau Hallstatt, beberapa waktu lalu kami berkunjung ke danau lain yang juga tak jauh dari Salzburg. Namanya Fuschlsee Sankt Gilgen, yang juga menjadi obyek wisata di Austria. Letaknya satu jam juga dari Salzburg, tepatnya di Salzkammergut. Rupanya di sini banyak spot alam yang menarik dikunjungi. Apalagi tak ada tiket masuk untuk menikmatinya. Hmmm, boleh dicoba ya!

Kami berkendara dari Jerman. Tiket parkir dikenakan 4€ untuk 24 jam. Ada banyak hotel dan penginapan jika ingin tinggal lebih lama. Begitu pun sajian restoran kuliner tradisional atau moderen. Lengkap! Sajian kuliner yang saya nikmati di sini, akan dibahas selanjutnya.

Mau coba banana boat? Ada sejumlah olahraga air di sini.
Anda juga bisa menyaksikan keindahan alam dari atas dengan kereta gantung.

Tak hanya kuliner, ada olahraga air yang menjadi keriyaan tersendiri bagi keluarga atau kelompok wisatawan. Untuk menikmati keindahan danau, ada tawaran menyewa boat dengan durasi waktu satu hingga dua jam. Tentu mengendarai sendiri, anda harus memiliki ijin mengemudi. Jika tidak ada, supir boat sewaan pun siap mengantar.

Ingin ide kapal wisata? Di sini pun ada. Anda bisa membeli tiket kapal wisata untuk berkunjung ke beberapa dermaga terdekat atau keliling danau. Semua terserah anda.

Tak suka dengan kapal wisata, ada pilihan lain. Anda bisa menggunakan kereta gantung menikmati pemandangan danau di sela-sela gunung dari atas. Bahkan di sini anda bisa menggunakan cable railway menuju puncak tertinggi. Dari Schafberg, salah satu puncak gunung tertinggi ada keindahan alam yang tak terbayarkan. Keren ‘kan!

Apa saja yang bisa dilakukan di sini? Ceritanya berlanjut ya di sini!

Katakomben Peterfriedof, Salzburg Austria

Katakombe atau Katakomben di bawah gunung tampak dari kejauhan. Bangunannya seperti pahatan yang menempel di kaki pegunungan. Bangunan kuno yang masih kokoh meski sudah ratusan tahun.

Ini seperti akar pohon. Hanya bentuknya yang unik namun terkesan menyeramkan menurut saya, yang terletak di gerbang masuk pemakaman.

Katakombe juga berarti kompleks pemakaman umat kristiani di masa awal.

Kapel yang ada di tengah kompleks dan bertuliskan tahun pendiriannya, 1491. Wow!

Ada pemakaman berada di luar dan ada yang dikunci atau diberi pagar untuk tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. 

Bagi pengunjung Katakombe, untuk masuk ke dalam seperti lorong-lorong itu perlu membayar 2€ per orang. Tak ada pemandu wisata di dalam.

Ini setelah pintu masuk.

Katakomben atau Katakombe adalah tempat pemakaman umat Kristen awal ketika terjadi penyebaran ajaran kristiani di suatu wilayah. Ini seperti masih berkaitan dengan kebudayaan Romawi kuno awal Masehi. Di sini juga konon dijadikan tempat pertemuan. Namun fungsi katakombe lainnya semacam tempat pelarian dan persembunyian kala orang-orang Kristen awal diserang dan ditekan. Mengapa dijadikan persembunyian? Mungkin karena ini area perkuburan yang sepi dan banyak lorong-lorong dibangun seperti ruang bawah tanah jadi menyulitkan pengejaran. Ini hanya asumsi saya saja, tanpa tour guide dan memang tak banyak informasi yang didapat. 

Ketika sekelompok turis memasuki area ini, kami pun ikut serta. Rupanya tidak gratis, ada tiket masuk yang harus dibayarkan. Bayar 2€ per orang. Ada tanda peringatan ‘Tidak boleh berisik!’ karena ini sesungguhnya adalah pemakaman. Ada banyak bilik kamar yang dibangun menyerupai gua apalagi letaknya di bawah pegunungan lain. Di sini juga terdapat makam tokoh terkenal seperti Michael Haydn atau saudari dari Mozart. Akhirnya kami putuskan tidak ikut sepenuhnya hingga naik ke atas, semacam menara lonceng. Udaranya yang dingin membuat kami tak kuasa menyelinap dan menjelajahi tempat ini. Saya menyerah karena dinginnya. 

Sebagai kompleks pemakaman, kami perhatikan ini adalah pemakaman tertua terlihat dari informasi nisan. Lalu juga ada nama-nama prajurit masa perang dunia kedua terkubur di sini. Di tengahnya ada kapel tua dengan dinding yang terbuat dari batu dan pintu kayu yang kokoh. Biasanya menurut tradisi orang Jerman, sebelum dimakamkan keluarga membawa anggota keluarganya ke dalam Kapel. Selain dilakukan misa pemberkatan jenazah, kerabat dan handai taulan bisa memberi penghormatan terakhir di Kapel, bukan rumah tinggal dari orang yang kedukaan. Sepertinya tradisi Jerman dengan Austria tidak berbeda.

Di tepi Salzburg ini Petersfriedhof yang juga adalah katakombe, bangunannya dipahat cantik mengikuti kontur tanah di sekitarnya. Tak lama kami di sana karena udara di kaki pegunungan seperti menusuk badan saya. Kami pun bergegas menuju pusat kota tua, Altstadt yang letaknya tak jauh dari situ.

Katakomben tidak hanya di Salzburg, ada di beberapa tempat seperti Roma, dsb. Namun katakombe terbesar di dunia ada di Pulau Milos, Yunani. 

Well, good to know!

Simak 6 Alasan Datang ke Salzburg, Austria

Seorang seniman jalanan bermain musik di kota tua Salzburg. Selain kostumnya yang menarik, lihat bagaimana dia terkesan melayang di atas bumi. Sampai sekarang saya bingung bagaimana cara dia melakukan itu tetapi kata suami itu gaya gravitasi. Hmm, apa anda bisa menjelaskan?

Ingin berkeliling dengan bis cukup bayar 4€ per orang untuk 24 jam. 

Jika ingin merasakan sensasi turis, coba ini berkeliling kota tua dengan delman.

Ide usaha ini boleh dicoba, studio foto dan sewa kostum ala jaman dulu. Akhirnya saya tahu dimana seorang teman pamer foto seperti ini di media sosial. Rupanya di sini tempatnya.

Ini salah satu sovenir yang bisa dibawa pulang.

Saat traveling tentu anda punya alasan mengapa harus pergi ke sana. Jangan katakan alasan terpaksa karena itu akan membuat anda tak nyaman selama berwisata. Begitu pun ketika saya menjumpai banyak turis yang datang ke Salzburg, Austria. Sebagai informasi, Salzburg adalah kota terbesar keempat di Austria. Urutan kota terbesar di Austria dari pertama hingga keempat yakni Wina, Graz, Linz dan Salzburg setelahnya.

Sembari menunggu kereta selanjutnya ke Roma, saya sempatkan ngobrol dengan mereka yang sedang melancong ke Salzburg di ruang tunggu stasiun. Ternyata ada berbagai tujuan kedatangan mereka ke sini. Tak perlu berlama-lama, jika ada waktu transit, silahkan manfaatkan itu!

Apa saja?

  • Alasan musik

Dua nama diatas dibuat prasasti bahwa pernah tinggal atau lahir komponis di sini. Salzburg tidak hanya Mozart saja.

Rumah kelahiran atau Geburthaus Mozart menjadi destinasi wisata.

Di Salzburg pernah lahir seorang komponis dan tokoh dunia musik yang hingga sekarang karyanya masih dinikmati. Siapa dia? Wolfgang Amadeus Mozart pada tahun 1756 atau yang lebih dikenal Mozart. Untuk menghormati karya-karya beliau yang memukau dunia, pemerintah setempat menjadikan rumah kelahiran Mozart sebagai destinasi wisata. Tak hanya mempelajari riwayat hidupnya, anda juga bisa mengunjungi rumah tinggalnya (wohnhaus) yang tak jauh dari situ. Karena kecintaan pada musik, pemerintah setempat membuatkan museum di dekat patung Mozart. Di Museum Salzburg, anda menjumpai beberapa tokoh musik lain yang juga karya-karyanya dikenal dunia. 

Tak hanya karena Mozart, Salzburg dikunjungi. Bagi anda pencinta film jaman orangtua saya mungkin anda pernah dengar ‘Sound of Music’ yang pernah menjadi legenda. Saya hanya sempat dengar satu kaset yang berisi lagu-lagu musik dalam film tersebut, sekitar tahun 1989. Musiknya benar-benar bagus, penuh karya seni. Nah di Salzburg ini, anda bisa mendatangi lokasi shooting film tersebut. Pendapat teman yang pernah menonton film ini, suasana Salzburg memang tepat sekali dijadikan lokasi pengambilan gambar. Oleh karena itu, pemerintah setempat juga menjadikan destinasi wisata sehari full untuk menikmati area lokasi shooting film tersebut sembari memahami tokoh-tokoh ceritanya. Keren ‘kan!

Begitu syahdu dan romantis suasananya dengar musik instrumen saat makan dengan pasangan. Itu yang ditawarkan oleh beberapa restoran khas Austria di sini. Beberapa kali saya melihat orang-orang membawa alat musik di sini. Rupanya di Salzburg sering ada festival musik.

    • Alasan alam dan panorama yang indah

    Hallstatt.

    Hallstatt.

      Siapa saja yang datang ke Salzburg pasti menganggumi keindahan panorama pegunungan! Indah dan suasananya yang sejuk membuat banyak orang betah tinggal di sini. Sejak 1997 Salzburg dijadikan UNESCO Wolrd Heritage. Pantas saja indah karena kota ini dikelilingi oleh pegunungan Alpine yang cantik.

      Anda perlu menyimak tulisan saya tentang Hallstatt yang dijadikan UNESCO World Heritage. Lokasi ini sudah ada sejak lama, sejak mereka mengenal pertambangan garam di area Salzburg. Ini dikenal Salzwelten, pertambangan garam dunia. Meski tak besar kota Hallstatt namun anda akan tergoda dengan suguhan pemandangan danau di sini. Danau di tengah pengungan yang asri seolah menawarkan kedamaian bagi mereka yang melihatnya. Luar biasa keagungan Tuhan ini!

      Dari Salzburg, ada tawaran untuk bisa menjangkau ke sana. Anda bisa menumpang kereta api dan turun di stasiun terdekat Hallstatt. Lalu melanjutkan dengan ferry untuk berkeliling mengamati keindahan danau. Jika tidak, pemerintah setempat menawarkan promosi datang ke Hallstatt dengan bis. Saya berpengalaman ke Hallstatt dengan mobil pribadi dari Jerman. Jika anda ingin tahu lebih jauh, bisa kontak saya.

      • Alasan adanya tambang garam terbesar di dunia

      Nama Salzburg konon berasal dari sungai Salzach. Ada pula yang mengatakan Salzburg berarti ‘Salt Castle’. Namun sesungguhnya di sini juga ada tambang garam di area Hellbrun. Tak jauh dari situ anda akan menelusuri Salt Lake. Kata turis di depan saya, pemandangannya benar-benar indah. Area ini dinamakan Salzkammergut, banyak resort di tepi danau jika ingin berbulan madu sejenak.

      Meski sudah beberapa kali ke Salzburg, saya belum sempat ke sana karena tak tahu lokasi sebenarnya. Rupanya pemerintah setempat lagi-lagi buat promosi wisata bagi turis untuk menjangkau Salt Mines ini. Saya lihat foto dari turis yang bercerita di hadapan saya, memang cantik sekali lokasinya. Hmm, patut dijadikan catatan untuk datang lagi ke sini.

      • Alasan arsitektur Baroque

      Sampai sekarang saya bingung siapa sih pria yang berdiri di atas bola emas ini. Apa maknanya tak ada penjelasan. Ini di pusat kota tua. Tampak di belakang menara Dom Salzburg.


      Saya pernah bercerita bahwa katedral Salzburg atau Dom Salzburg begitu cantik. Meski ada perpaduan antara arsitektur Gothic dan Baroque namun sesungguhnya kota ini dijuluki Baroque Stadt juga, selain Schärding, kota lain di Austria. Datang deh Altstadt, kota tua Salzburg! Disini akan terlihat banyak bangunan bercirikan baroque itu, termasuk gereja-gereja di Salzburg. 

      • Alasan study

      Salah satunya adalah fakultas hukum di University of Salzburg.

      Rupanya Salzburg juga menjadi rumah bagi tiga universitas ternama. Jadi tak heran jika bertemu banyak mahasiswa di sini. Salah satunya, saya berjumpa dari orangtua seorang mahasiswa yang study di sini. Orangtua ini baru saja mengunjungi anaknya. Saya bertemu di stasiun kereta ketika mereka akan menuju ke bandara. 

      Jika suka musik, anda mungkin layak mencoba ‘Mozarteum University of Salzburg’. Dari namanya sudah terdengar sebagai universitas musik untuk umum. Saya tidak tahu dimana lokasi universitas ini, cuma di Altstadt saya menemukan satu fakultas dari suatu universitas.

      • Alasan pembuatan bir

      Jika datang ke München untuk Oktoberfest, anda pasti mengenal Agustiner. Salzburg menjadi lokasi pembuatan bir terkenal itu, Agustiner Bräu di Kloster Mülln. Di sini anda melihat bagaimana pembuatan bir sekaligus mencicipi masakan khas Austria yang mirip dengan Bayerisch di biergarten yang luas. 

      Salzburg termasuk kota moderen, bahkan pengelolaan transportasi umum seperti bis terbilang maju. Jika perut lapar, coba nasi goreng khas Indonesia di sini. Penasaran ‘kan?

        Dom Salzburg: Perpaduan Seni Baroque dan Gothic Sejak Tahun 774

        Dom Salzburg tampak depan.

        Menara gereja seperti layaknya gereja di Jerman.

        Pintu gereja ada tiga yang menandai Iman, Harapan dan Kasih.

        Kemegahannya sudah tampak dari pintu masuk.

        Wajar saja jika butuh waktu berpuluh-puluh tahun membangun gereja ini. Lihat kubahnya terukir indah dengan pahatan yang sempurna dan lukisan indah.

        Bilik pengakuan dosa.

        Lekukan kubah yang indah dan menawan.

        Lukisan uskup pendahulu gereja.

        Organ besar di tengah atas dan dua organ kecil. Keren.

        Altar, persembahan misa kudus.

        Kapel bawah tanah.

        Berjalan menyusuri kota lama Salzburg yang berdekatan dengan Rathaus, kami menemukan Dom Salzburg yang kemegahannya sudah terlihat mata dari jauh. Lonceng gereja berbunyi berkali-kali kala jam 3 sore. Kami mengikuti arah dimana lonceng dibunyikan. Rupanya setelah kami mencari tahu lonceng gereja telah ada sejak 1628. Panggilannya begitu kuat mendetang.

        Di depan gereja beberapa turis tampak mengambil foto. Ada taman dan air mancur yang megah khas Baroque. Gerbang gereja dihiasi patung pahatan yang sempurna dengan tahun pembuatannya. Wow, gereja ini menyimpan sejarah yang terekam selama berabad-abad lamanya. 

        Di katedral ini pula saksi bisu dimana Mozart, tokoh dunia musik terkenal dibabtis. Konon gereja yang dibangun sejak tahun 774 lalu sempat terjadi kebakaran yang hebat, gereja direnovasi lagi tahun 1181 dan baru selesai 1628. Ratusan tahun membangun gereja ini? Tak salah karena setiap kubahnya dibuat detil khas Baroque dengan lukisan yang menawan. Katedral ini juga menyimpan memori kala sempat menjadi sasaran perang dunia kedua. Kemudian direnovasi dan selesai 1959. Luar biasa!

        Ada tiga pintu, namun untuk masuk gunakan pintu tengah. Pintu pertama bertuliskan 774, pintu kedua bertuliskan 1628 dan pintu ketiga 1959. Ketiga pintu ini merupakan simbol IMAN, HARAPAN dan KASIH. Kubahnya yang tinggi menggambarkan keindahan dengan lukisan dan pahatan karya seni. Ini disebut ciri gothic. Sempurna! Di sisi gereja ada lukisan para orang kudus dan tempat untuk berdoa. Sejenak saya berdoa dan suami tampak memotret setiap sisi gereja. 

        Di koridornya ada patung empat pengarang Injil yakni St. LUKAS, St. MATIUS, St. MARKUS dan St. YOHANES. Di belakang gereja saya melihat bilik kayu yang kokoh dengan ukuran semacam kamar privat. Ini adalah ruang pengakuan dosa. Di Indonesia ruangan ini selalu menyatu dengan bangunan gereja. Di sini terpisah dan sepertinya masih menjadi gaya lama. 

        Bangku di depan altar sepertinya bangku lama saat gereja ini berdiri karena tampak tua dan sederhana sekali. Tak sebanding dengan kemegahan gereja yang luar biasa. Namun bangku umat sudah tampak moderen seperti layaknya gereja yang saya temui di Jakarta. Mungkin di bangku lama untuk tempat spesial para diakon atau petugas misa, mungkin loh.

        Di sekitar atas altar saya mendapati organ lama seperti yang pernah saya jumpai di Dom Passau, Jerman. Organ besar ada di tiga tempat dan yang terbesar di atas balkon gereja. Tak terbayang keindahan suara yang dihasilkan kala koor menyanyikan pujian bagi Tuhan. Pastinya merdu menambah kekhusyukan ibadah.

        Altar yang menjadi pusat perayaan ibadah dibangun dengan keindahan ciri khas Baroque. Di sisi altar ada lukisan sepertinya ini adalah lukisan tokoh setempat dengan pakaian kebesaran dan khas seperti uskup di masa lalu atau pengagas bangunan ini. 

        Tak jauh dari tempat koor, ada tangga menuju ke bawah. Di bawah ada kapel untuk ukuran umat yang tak banyak. Di kapel ini ada foto dan museum untuk menyimpan benda-benda rohani pada masa awal gereja. Lalu masih di lantai bawah gereja dijelaskan bahwa uskup pertama dari gereja dimakamkan di sini. 

        Jika menelisik bangunan Dom Salzburg sekilas seperti Dom di Passau bentuk bangunannya. Namun ciri gothik terlihat dari atas gereja dengan kubahnya yang menjulang. Untuk masuk gereja, tidak ada biaya alias gratis. 

        Namun saran saya sebagai berikut:

        • Berpakaianlah yang sopan dan pantas karena dimana pun tempat ibadah, petugas selalu melarang turis bila berpakaian yang kurang sopan.
        • Tidak makan dan minum selama di gereja.
        • Jaga kebersihan!
        • Buka topi!
        • Tidak berisik.
        • Dilarang ambil foto tentang orang yang berdoa!
        • Tidak mengambil foto di area altar. Di depan altar boleh.

        Demikian laporan pandangan mata saya. Bagaimana pengalaman anda melihat tempat ibadah yang menurut anda menarik?

        Menyimak Penggunaan Bis di Salzburg, Austria

        Pemandangan Salzburg dari dalam bis.

        Beli tiket di sini.

        Bisnya panjang semacam bis gandeng.

        Ada tempat untuk binatang peliharaan.

        Reklame aplikasi untuk membantu penumpang bis.

        Suasana bis yang nyaman dan bersih.

        Halte tujuan selalu nampak otomatis di atas.

        Penumpang yang berdiri disediakan tali gantung yang nyaman. Lalu ada informasi juga jika anda bisa membeli tiket pada sopir.

        Tombol stop otomatis untuk mengingatkan sopir agar berhenti.

        Tampak di luar adalah halte bis moderen dengan papan informasi otomatis tentang bis dan lama menunggu.

        Di sini disediakan juga city tour bilamana anda suka film ‘Sound of Music’ karena mengambil latar shooting di Salzburg.

        Beberapa kali datang ke Austria, saya biasanya menggunakan kendaraan pribadi. Lain waktu saya ingin mencoba moda transportasi umum, bis. Bis di Salzburg itu terlihat moderen dan bersih. Bisnya panjang semacam bis gandeng. Lalu pintunya otomatis serta petunjuk informasi halte pun dilakukan secara otomatis pula. Keren deh!
        Terminal bis dekat dengan stasiun Hauptbahnhof Salzburg, berjalan kira-kira seratus meter ke depan. Jangan bayangkan terminal bis sebesar kota Jakarta dan kacaunya lalu lalang kendaraan! Di sini terminalnya sederhana hanya beberapa lajur dengan nama tujuan halte tertera secara otomatis di tiap lajur. Untuk bisa naik anda harus membeli tiket. Karena ingin sightseeing, maka saya pilih tiket 1 hari dengan biaya 4€ per orang. Pembayaran tiket juga bisa melalui kartu kredit atau debit asalkan ada logo yang sama yang tertera di mesin.

        Ini semua adalah sistim kepercayaan bahwa anda punya tiket kala naik bis. Anda juga bisa beli tiket langsung ke sopir saat hendak naik. Di sekitar sopir ada mesin kasir dengan uang kembalian. Lengkap! Sementara saya pernah naik bis di Penang, Malaysia tidak punya uang kecil akhirnya saya ditolong penumpang lain untuk dibayarkan. Karena sopir bis di Penang tidak melayani transaksi pengembalian uang. Di Salzburg tidak, sopir bis punya mesin kasir untuk mengembalikan uang anda bila anda membayar dalam nominal yang besar.

        Saya pikir setiap orang di bis dipercaya punya tiket di kantongnya. Ternyata baik di Jerman maupun di Austria diberlakukan petugas kontrol tiket dengan pakaian non dinas. Siapa sangka jika petugas memeriksa secara random dan anda kedapatan tak punya tiket! Apa yang terjadi? Anda kena denda. Nah itu saya tidak tahu berapa besarnya denda. 

        Hanya saja saat pengalaman naik bis pertama kali di Salzburg, petugas tiket yakni pria berambut blonde dan berpakaian non dinas layaknya penumpang menunjukkan kartu kepada sopir. Dia meminta setiap penumpang untuk menunjukkan tiket kepadanya. Syukurlah saya membeli tiket! Pengalaman saya kena denda karena bertransportasi umum bisa di lihat di sini. Dari situ saya betul-betul menyimak bagaimana seharusnya berkendara agar tidak kena denda lagi. Di Eropa bo, mahal segalanya!

        Bacahttps://liwunfamily.com/2014/07/20/tips-bertransportasi-umum-di-negeri-orang/

        Begitu canggihnya bis ini sampai ada aplikasi penggunaan bis loh! Tuh lihat di promosi yang ditempelkan dalam bis. Setiap halte yang dituju bis tertulis dengan baik secara otomatis di layar atas dekat dengan sopir. Setiap halte bis akan berhenti. Tidak ada aturan lewat pintu mana saat naik atau turun namun jika anda belum ada tiket usahakan naik dari pintu depan agar bisa langsung membeli di sopir. Sebaiknya persilahkan dulu penumpang lain untuk turun, baru kita bisa naik bis agar tertib. 

        Bisnya bersih dan bangkunya nyaman. Usahakan untuk tidak membuang sampah dalam bis. Ada tombol stop untuk pemberhentian mengingatkan sopir. Lalu di sudut lain, bagi penumpang yang membawa binatang peliharaan ada space khusus termasuk tali untuk anjing peliharaan agar nyaman. Jika tidak kebagian tempat duduk, anda bisa nyaman bergelantungan di tali bis yang disediakan. 

        Bis berhenti sesuai halte yang ada, tidak bisa di sembarang tempat. Di halte ada yang sudah moderen dengan memasang papan halte otomatis yang bertuliskan spesifik bis dan lama menunggu. Keren ya seperti di stasiun saja. Namun ada juga halte yang belum terpasang papan informasi otomatis seperti itu. Pastinya turis yang datang tidak tersesat dan nyaman dalam bertransportasi umum.

        Jika anda punya uang lebih, anda bisa menggunakan taksi juga. Taksi tersedia di beberapa tempat termasuk di depan mall, dekat stasiun Hauptbahnhof Salzburg. Namun jika ingin lihat-lihat kota, silahkan menggunakan bis! 

        Apakah anda punya pengalaman lain soal bertransportasi umum? 

        Siapakah Mozart? Cari Tahu di Mozart Geburthaus, Salzburg

        Rumah tempat dimana Mozart dilahirkan. 

        Patung Mozart berdiri dekat museum.

        Sebuah prasasti menandai kelahiran Mozart pada 27 Januari 1756.

        Ada promosi paket tur lain menyusuri sungai di seberang museum dengan kapal yang romantis.

        Harga tiket masuk.

        Gereja di ujung jalan.

        Oleh-oleh yang bisa jadi buah tangan.

        Mozart terlahir dengan nama Wolfgang Amadeus Mozart pada tahun 1756 di Salzburg, tepatnya di jalan Getreidegasse. Namanya dikenal memberi pengaruh besar pada dunia musik. Dia bahkan memulai debutnya ketika penampilannya berhasil memukau Pangeran dari Bavarian. Sejak itu karyanya semakin dicintai oleh siapa saja. Ini terbukti saat ia konser keliling Eropa, karyanya dikagumi banyak orang.

        Sejarah yang panjang yang dilewati Mozart menjadikan karyanya seolah abadi. Ingat tiada yang instan di dunia ini. Saat saya memasuki rumah kelahiran tokoh musik dunia ini, saya terkagum atas usaha pemerintah setempat untuk melestarikan dan memelihara peninggalan milik Mozart dan keluarganya. Bayangkan bahwa turis seluruh dunia datang ke Salzburg hanya untuk menyimak dan mempelajari riwayat komposer terkenal ini. Entah karena kelelahan dan faktor makan siang, saya belum menikmati makan siang saat waktunya tiba sehingga banyak informasi yang saya lewatkan. Sebaiknya jika berkunjung ke museum atau tempat bersejarah tidak dalam kondisi kelelahan dan kelaparan sehingga fokus.

        Untuk menuju ke rumah kelahiran Mozart, anda naik bis dari stasiun Hauptbahnhof Salzburg. Bayar saja 4€ per orang untuk 24 jam sehingga anda puas berkeliling, tidak hanya di rumah bersejarah Mozart. Anda bisa naik bis jurusan ke Rathaus atau Altstadt (kota tua). Turunlah di halte bis Rathaus, berjalan kaki kira-kira 3 menit maka anda sudah tiba. 

        Per orang dikenakan tiket masuk 11€. Cukup mahal memang namun bagi pengagum karya Mozart, mereka rela bayar tiket tersebut. Tak jauh dari situ, anda bisa menikmati aneka sovenir dengan gambar Mozart seperti coklat, makanan, pernak-pernik hingga bel musik sebagai hadiah. Semua lengkap! 

        Suasana kota tua yang sejuk dan dihiasi bangunan khas baroque layaknya di Jerman menambah keindahan untuk berfoto. Beberapa turis tampak asyik berfoto, selebihnya mereka berbelanja di area pertokoan dengan merek-merek ternama. Namanya area turis tak lengkap bila tidak ada restoran. Aneka restoran ada di sini mulai makanan laut (seafood), McD, makanan India, masakan Italia, restoran Asia bahkan makanan Jerman, semua ada. Untuk menarik atensi pengunjung di restoran Austria, mereka menambah iringan musik karya Mozart sehingga terkesan romantis. 

        Setelah mengunjungi rumah kelahiran Mozart atau Mozart Geburthaus, perjalanan sejarah bisa dilanjutkan ke Mozart Wohnhaus atau rumah tinggal Mozart. 

        Tidak hanya Mozart, di Salzburg ada beberapa rumah kelahiran Musikus dunia juga. Ini bisa anda dapatkan asalkan anda bersedia berkeliling hingga museum Salzburg. Penasarankan siapa saja tokoh musik dunia lainnya? Silahkan datang ke Salzburg!

        Tips dari saya:

        • Jika anda berkunjung ke museum, sebaiknya anda dalam kondisi yang nyaman, tidak kelaparan atau kelelahan agar setiap informasi bisa tersampaikan dengan baik.
        • Bawa uang tunai untuk bayar tiket masuk! Jika di beberapa negara masih diterima pembayaran kartu kredit atau debit, di sini tidak.
        • Udaranya dingin meski masih di musim gugur. Bawa jaket/syal/baju hangat agar merasa nyaman. Mungkin letaknya di sekitar pegunungan membuat suasana begitu sejuk dan dingin.
        • Hasrat untuk ‘urusan ke belakang’ karena udara begitu dingin, di sini tidak ada WC umum. Manfaatkan saat di museum atau restoran saat makan siang di sana secara gratis.

        Well, tiada yang paling berkesan bahwa dalam hidup kita masih dikenang dengan karya-karya yang baik. Semua proses yang dilalui Mozart begitu panjang, namun masih diingat orang hingga sekarang. Impian itu tidak ada yang instan, asalkan kita berani bayar mahal harga kesabaran. 

        Semoga bermanfaat!

        Nasi Goreng Indonesia Digemari di Luar Negeri? Datang ke ‘Yuen China Restaurant’ di Salzburg, Austria!

        Nasi goreng khas Indonesia. Terlihat sederhana namun harganya tidak sederhana. Rasanya enak sekali!

        Sayur bambu dan jamur yang dipesan suami.

        Daftar minuman tersedia di sini.

        Suasana restoran khas Asia.

        Ini semacam tungku untuk menghangatkan makanan, di dalam ada lilin yang menyala. Makanan diletakkan di atas tungku ini agar tetap hangat.

        Letaknya di kota tua, tak jauh dari rumah kelahiran Mozart.

        Ini jadi nasi goreng termahal saya.

        Siapa yang tak kenal nasi goreng di Indonesia? Dari harga termurah sepuluh ribu rupiah di pedagang gerobak hingga harga termahal puluhan ribu rupiah di restoran eksklusif untuk seporsi nasi goreng. Saya suka nasi goreng bila berada di luar Indonesia dan rindu masakan tanah air. Mengapa? Nasi goreng adalah menu masakan Indonesia yang mudah dijumpai di luar negeri. 

        Konon kata ibu saya, nasi goreng adalah makanan rakyat dimana masa perang ketika banyak orang begitu susah untuk makan, mereka menggoreng nasi agar tetap bisa dimakan dengan enak. Betul saja bumbu nasi goreng yang sederhana, berbeda dengan masakan Indonesia lain yang kaya bumbu maka nasi goreng digemari lidah orang-orang non Indonesia. Termasuk suami juga suka nasi goreng yang menjadi makanan favorit sejak kenal Indonesia. 

        Tak percaya bahwa nasi goreng populer di luar negeri. Datanglah ke ‘China Restaurant Yuen’ di Salzburg, Austria! Letaknya tak jauh dari Mozart Geburthaus, rumah kelahiran Mozart di kota tua. Terdapat beberapa menu nasi goreng di sini. Saya pikir pramusaji atau pemiliknya adalah orang Indonesia namun ternyata tidak. Katanya banyak orang juga datang dan memesan nasi goreng, bukan hanya dari Indonesia saja. Mereka pun menyebut ‘Nasi Goreng Khas Indonesia’ dalam daftar menu mereka.

        Saya pesan nasi goreng dan suami pesan sayur bambu. Tak berapa lama pramusaji yang ramah menyediakan pesanan kami dalam wadah yang dihangatkan dengan lilin. Dengan begitu makanan akan tetap hangat. Maklum saja Salzburg tetaplah kota yang sejuk dan dingin sehingga paling enak jika menyantap makanan selagi hangat. Enak sekali! Kerinduan saya terbalaskan di sini. Rindu masakan di rumah. 

        Bagi anda di Indonesia, nasi goreng adalah menu biasa. Namun bagi saya di luar sini, nasi goreng pun menjadi istimewa. Ini pertama kali saya makan nasi goreng seporsi dengan harga paling mahal. Biasanya saya makan nasi goreng di pedagang kaki lima hanya sepuluh ribu rupiah. Kini saya makan nasi goreng dengan harga lebih dari seratus ribu rupiah yakni 11,90€. Ya sudah, harga tak masalah. Setidaknya rasa lidah terobati, rindu masakan Indonesia.

        Apakah anda suka nasi goreng juga? Bagaimana pengalaman anda dengan nasi goreng?

        ‘Love Locked Bridge’ Jembatan Penuh Cinta di Salzburg

        Contoh gembok-gembok yang diikatkan pada jembatan. Warna dan bentuknya yang unik menghiasi jembatan. Jangan lupa kuncinya dibuang ke sungai!

        Lihat saja banyak orang lalu lalang di jembatan ini, tak pernah sepi!

        Terlihat indah sekali, berwarna-warni menghiasi jembatan.

        Pemandangan yang indah dari atas jembatan. Keren!

        Ini pasti bukan saya! Ada nama pasangan dan tanggal anniversary di gembok.

        Gembok cinta adalah kiasan bilamana sepasang kekasih berkomitmen untuk terus bersama, menuliskan nama mereka di gembok kunci sebagai bukti cinta kemudian mengikat gembok di pinggir jembatan. Setelah itu kunci dari gembok dibuang ke sungai di hadapan mereka. Cinta mereka abadi karena tidak bisa dibuka dan terikat pada jembatan. Begitu cara memaknai ‘Love Locked Bridge‘ yang saya temukan di Salzburg. Di Jerman saya juga menemukannya di kota Regensburg. Kali ini tak jauh berbeda dengan yang ada di Regensburg, ada jembatan cinta juga di dekat kota tua (Altstadt) Salzburg, Austria.

        Tidak ada informasi waktu jembatan cinta ini dipenuhi oleh gembok-gembok yang bertuliskan nama sepasang kekasih. Saat saya tanya penduduk setempat, mereka angkat bahu. Jelasnya, jembatan ini selalu dipadati banyak orang, entah keperluan menyeberangi sungai atau memang ingin mengabadikan cinta mereka di sini. Letaknya yang berada di kota tua memang tepat didatangi oleh turis untuk mendokumentasikan keindahan jembatan dan pemandangan di sekitarnya.

        Penasaran ‘kan? Sayangnya keberadaan jembatan ini tidak begitu populer sehingga saya hanya kebetulan lewat di situ setelah puas berkeliling di kota tua Salzburg. Seandainya saya tahu sebelumnya, saya pasti sudah bawakan gembok besar dengan hiasan nama saya dengan suami untuk ditancapkan di pinggir jembatan. Meski pernah dua kali berada di ‘Love Locked Bridge’ kok saya belum sempat memasangkan gembok bertuliskan nama dan suami. Lain kali mungkin!

        Jembatan di wilayah area pejalan kaki dekat ‘Mirabel palace’ ini memang asyik untuk dikunjungi. Suasana sore hari saat musim gugur seperti ini terlihat romantis buat pasangan yang datang. Jembatan ini dikenal dengan nama jembatan Markarsteg dengan pemandangan sungai Salzach. Di tengah jembatan anda akan melihat hamparan bukit dan gunung yang menjulang dengan sinar matahari kala senja. Keren!

        Setelah anda berkunjung ke ‘Mozart Geburthaus’ atau rumah kelahiran Mozart, berjalan kaki sekitar tiga menit melewati jalan Ferdinand Hanusch Platz maka anda akan menemukan jembatan tersebut. Atau dari stasiun Salzburg Hauptbahnhof maka anda cukup naik bis nomor 160, 170 atau 180 lamanya kira-kira 10 menit. 

        Tips:

        • Bawa gembok jika ingin memulai kisah ‘Love Locked Bridge’ di sini daripada membeli karena mahal harganya.
        • Bawa kamera.
        • Di sekitar situ ada beberapa kafe, sesaat setelah mengabadikan cinta lewat gembok, silahkan mampir untuk menikmati senja di sekitar jembatan.

        Semoga bermanfaat!